Penerbit: Insist Press Yogyakarta, 2005 | Desain sampul: Andy Seno Aji | Pengantar: Budi Darma
Ini hanya beberapa penggal ceritaku.
Sebenarnya sudah lama aku ingin mengungkapkan tentang diriku yang sesungguhnya,
Simaklah baik-baik.
Aku hanya pelacur.
Genap empat tahun sudah, seratus tiga
belas lelaki yang berbeda dan seorang lesbian pernah menikmati selangkanganku.
Selangkangan yang paling aku banggakan.
Ya! Aku memutuskan menjadi pelacur
ketika aku kuliah semester satu. Sejak tidak pernah pulang selama dua ratus
malam. Di malam terakhir, Ibu berdandan seperti biasanya. Memakai gaun merah,
sepatu Versace berhak 10 cm. Namun malam itu, ibu tidak memakai perhiasan sama
sekali.
Seorang lelaki menjemputnya pada pukul
19.45. Perawakannya sangat kecil, bahkan lebih kecil dari Ibu. kulitnya kuning.
Lelaki itu bahkan terlihat jauh lebih muda dibanding Ibu. Gaya berpakaiannya
tidak seperti orang-orang yang Ibu ceritakan. Elegan dan berkelas. Dia hanya
memakai raincoat dipadu dengan celana
jeans dan sepatu gunung yang sudah lusuh.
Akhirnya bisa melewati November. Bulan yang banyak menorehkan luka
duka. Bulan kelahiran sekaligus perpisahan. Bulan di mana hujan
bercerita tentang awal dan akhir sebuah perjalanan.
Ini bukan
halaman terakhir. Tapi, lebih baik kututup saja catatan-catatan itu.
Kulipat, kumasukkan ke dalam peti. Mungkin di November mendatang ia akan
dibuka. Dibaca kembali. Untuk mengingatkan bahwa duka lama pernah ada, dan siap menerima kisah lara yang baru.
Saya dan Ayah sedang beristirahat ketika akan rekreasi ke Candi Borobudur
Ini adalah hari kematian ayah. Tepat ketika saya mengetik di paragraf
pertama ini. 7 November 2007, tujuh tahun lalu, di musim penghujan,
ketika Ashar tiba. Malaikat menjemputnya.
Ketika itu, saya
sedang berada di Jogja. Mendapat telepon, dari teman kecil saya Rara,
yang saat ini juga sudah almarhum, ketika saya sedang memesan mi di
warung indomie. Rara memberitahu kalau ayah sakit. Tapi, saya
menebaknya, ayah meninggal. Benar saja, beberapa menit setelahnya, adik
perempuan saya mengirim pesan pendek, “Put, pulang. Ayah meninggal.”
Sabtu 20 September lalu, saya memasak sayur
asem, tempe goreng, ikan asin, dan sambal untuk makan siang. Seperti
biasanya jika saya mengerjakan pekerjaan rumah, Zeta akan menawarkan
dirinya untuk membantu saya. “Bun, aku bantuin ya.” Tentu saja realita sesungguhnya adalah bermain dan mengacak-ngacak.
Zeta membantu dengan memasukkan jagung, labu siam, dan kacang panjang
satu persatu ke dalam panci yang berisi air mendidih. Berkali-kali aku
harus berkata, “Hati-hati ya, panas”. Dan Zeta selalu menjawabnya,
“Iyalah. Aku kan udah gede.”
Zeta kemudian menghentikan
memasukan sayuran ke dalam panci, karena dia tertarik dengan pekerjaan
yang saya lakukan: memotong tempe dan mencelupnya ke dalam air garam.
“Aku aja. Aku aja, ya.” Dengan semangat, Zeta mencelupkan tempe yang
sudah diiris tadi, lalu meremas-remasnya, hingga ada beberapa potong
tempe yang hancur. -___-
Udara Jogjakarta sejuk. Dari ujung kaki hingga leher saya masih tertutup selimut. Masih dalam selimut, saya mencari warna langit melalui jendela ruang televisi yang menembus ke halaman belakang, yang tirainya jarang ditutup. Ungu tua. Bisa diperkirakan saat itu sekitar jam 5 pagi. Saya memiringkan badan ke kanan, menghadap anak laki-laki saya yang masih tertidur pulas. Tanpa selimut. Dia tak pernah mau pakai selimut. Meski udara begitu dingin. Saya menyingkap rambut yang menutup keningnya.
"Ini adalah hari terakhir kita bermalas-malas di pagi hari, Nak. Besok kamu mau tak mau akan ikut Bunda bangun subuh-subuh, mandi, sarapan. Bunda antar kamu ke day care, kemudian Bunda kerja. Tak ada alasan untuk bangun tidur, tidur lagi. Tak ada alasan untuk malas mandi. Mulai besok kita akan menjadi bagian orang-orang yang sibuk di pagi hari. Patuh terhadap jadwal yang tetap. Senin sampai Jumat."
Sudah beberapa bulan ini saya tidur di ruang tengah. Mengerjakan deadline-deadline layout buku, desain sampul, dan naskah-naskah ringan. Saya mencintai pekerjaan lama saya. Meski tak pasti dan tak tentu datangnya.
Langit semburat jingga.
Angsa-angsa riang bermain kejaran di danau. Tiga ekor burung menari ke sana ke
mari. Dedaunan kering meliuk-liuk terbawa angin yang datang dan pergi memberi
kesejukan bagi hati yang sedih dan kesepian. Sepasang kekasih meminggirkan
perahunya lantas turun lalu pergi berdekapan dan berciuman.
Tidak jauh dari tempat
itu ada seorang gadis duduk di sebuah kursi panjang di bawah pohon rindang
sambil menatap pendar senja di air danau, ia baru menikmati senja di kota itu.
Kota kelahirannya yang sudah ia tinggalkan empat tahun lalu semenjak harus
melanjutkan sekolahnya ke sebuah perguruan tinggi di kota lain yang amat jauh
letaknya. Sejak kecil ia memang sering pergi ke tempat itu untuk saling
bercerita dengan danau. Bermain dan menatap senja persis seperti yang sedang ia
lakukan sekarang. Ia memang menyukai senja. Tiada teman yang lebih setia dalam
hidupnya selain danau.
Setiap kali lewat Nagan Kidul, saya selalu melihat perempuan itu. Duduk di trotoar. Melamun. Sesekali diam. Sesekali bicara. Sesekali marah-marah. Tubuhnya tidak begitu kumal. Dan acapkali ganti baju. Saya berpikir, mungkin perempuan itu warga perkampungan Nagan dan sekitarnya. Ketika siang dia nangkring di dekat taman belakang benteng. Atau sekadar duduk-duduk di trotoar, bersandar di spanduk caleg salah satu parpol yang membentang di pagar besi rumah orang, tepat di bawah pohon nangka. Apakah ini lucu? Tentu tidak bagi saya. Saya miris. Miris setiap melihat perempuan itu, meski hanya beberapa detik saja, ketika melintasi tikungan itu kecepatan motor saya kira-kira 30 km/jam. Mengapa Dianti, anggap saja dia bernama itu, depresi dan nangkring di jalanan. Apakah dia dulunya seorang yang kaya kemudian bangkrut karena terjerat hutang yang banyak? Sakit karena keturunan? Atau dikecewakan orang yang dia cintai?
Hmmm, dikecewakan oleh orang yang dia cintai. Jika pasti karena itu, saya dapat membayangkan dan merasakan betapa pedihnya. Betapa terlukanya. Jiwa raga serta pikirannya tentulah sudah diserahkan kepada yang ia cintai. Utuh. Kemudian hancur seketika, bersama perasaan dan akal sehatnya. Tentunya orang-orang seperti Dianti memiliki kepribadian melankolis yang dominan. Sama seperti saya. Di beberapa buku psikologi yang saya baca, bahwa orang-orang melankolis cenderung mudah gila. Jleb!
Menjelang tahun baru, saya pergi ke Jogja Library Center di Jl. Malioboro untuk mencari beberapa arsip. Entah saya yang bodoh atau gimana ternyata tempatnya tutup. Padahal Tahun Baru masih 4 hari lagi. Berpikir. Oh, ya itu hari Sabtu. Ternyata saya yang bodoh. Akhir-akhir ini stadium penyakit lupa saya mengalami peningkatan yang drastis.
Tak ingin sia-sia setelah berpanas-panasan sejauh 15 KM dengan mengendarai motor, akhirnya saya memutuskan menyebarang jalan, memesan es teh di angkringan. Duduk-duduk di kursi semen, di bawah pohon sambil sesekali memotret toko-toko tua di sekitar situ. Es teh datang. Saya menyeruputnya. Nikmat sekali. Kebetulan, ketika itu saya juga janjian dengan beberapa teman di tempat yang sama menjelang Magrib. Melihat jam di telepon genggam masih jam 13.48. Oke. Saya masih punya waktu 3 jam.
Saya menyalakan laptop. Membuka email dan akun media sosial. Mengetik beberapa timeline. Sign out. Dan membuka MS Word, melanjutkan tulisan semalam.
"Wartawan mana, Mbak?" Seseorang tiba-tiba menghentikan ketikan saya.
Horeee... akhirnya Zapata sudah
lulus ASIX!! Saatnya belajar makan, ya. Zeta mulai makan 6 bulan+1 hari. Gak
pas 6 bulan, soalnya waktu itu pas pulang dari Bandung, ngungsi dari Merapi J.
Hari pertama maem Zeta, Bunda
bingung mo ngasih Zeta maem pertama kali apa ya? Serealia dulu atau buah dulu.
Kebanyakan baca referensi, malah mumeett. Ada yang bilang serealia dulu karena
jika bayi diperkenalkan rasa yang hambar, bisa melatih cita rasa lidah bayi
agar tidak begitu gandrung sama yang manis-manis. Ada yang bilang buah dulu,
karena buah mirip dengan ASI, mudah sekali dicerna oleh sistem pencernaan bayi
yang baru pertama kali mencicip makanan lain selain ASI.
Bingung, deh. Ya udah, akhirnya
maem pertama Bunda putuskan Zetta makan serealia dulu deh.
awal 2004 lalu, saya berencana mengadopsi seekor kucing persia. saya hunting kemana-mana. ke beberapa kawan pecinta kucing, ke pet shop, black market, sampai rajin baca iklan di koran. kucing persia terlihat oke dan cantik. bulunya lebat, hidung pesek, dan kuping yang kecil. tentu saja harganya lumayan. desember 2004, dua minggu sebelum natal, saya pulang kampung. rumah keluarga kami tinggal di perumahan tahun 80-an. sepi dan banyak tetangga yang pelihara kucing. tapi, tidak ada yang pelihara kucing persia. saya berfikir tentu akan menjadi kebanggan tersendiri jika saya punya kucing persia. malam itu gerimis. dan dingin. mama masak spesial buat saya; sayur asem, sambal terasi, dan ikan asin. aroma ikan asin jambal roti. hmm... seekor anak kucing mengeong cerewet, menyusup ke dapur kami. dan ayah menyuruh adik bungsu kami memberi makan anak kucing itu.
Dua minggu ini, aku hunting playgroup untuk anakku, Zapata. Sejak hamil, aku sudah mengincar Milas. FYI, Milas itu adalah rumah makan vegetarian yang ada di Yogyakarta. Selain murah menurut isi dompetku, aku tertarik Milas karena di sana sangat diperhatikan soal gizi dan makanan. Anak-anak tidak diperkenankan membawa makanan pabrikan dan berplastik sekali buang ke sekolah. Selain itu, disiplin untuk menghargai makanan juga sangat ketat. Anak-anak diharusnya menghabiskan makanan yang sudah diambilnya. Tapi, ternyata pas aku ke sana, sudah penuh. Hiks..hiks... dan indent sampai bulan Desember.
Lalu, satu persatu aku mendatangi playgroup lainnya -yang atas rekomendasi teman-temanku. Dan amazing! Selain harganya maharani alias mahal banget, juga aku merasa kurang pas dengan pola didik dan aturan yang diterapkan. Gila aja,
Setiap orang pasti mempunyai lagu favorit. Baik secara sadar atau tidak, lagu-lagu tersebut selalu ada dalam playlist komputer, laptop, MP3 player, telepon cerdas, tablet, atau gadget apapun yang dimiliki. Saya pun demikian. Dari sekian ratus album musik yang saya miliki, namun lagu-lagu tersebut entah kenapa selalu saya klik, dan hukumnya seperti menjadi wajib dengar.
Bagi saya musik bukan saja teman ketika belajar, bekerja, bersantai, ataupun ketika dalam perjalanan, dan bukan hanya bagian dari seni terindah yang ada di semesta, namun juga sebagai tanda kenangan. Misal, ketika saya mendengar lagu Garuda Pancasila, maka yang ada dalam ingatan dan perasaan saya adalah sebuah fragmen televisi pertama di Indonesia yaitu TVRI, yang saya tonton setiap jam 19.30, ketika saya SD. Dan saya bernyanyi sekeras-kerasnya bersama adik laki-laki saya sambil loncat-loncat di sofa ruang keluarga. Kadangkala kami, saya dan adik, bertengkar gara-gara rebutan menyanyikan Garuda Pancasila. Hingga kami bersepakat setiap hari Senin adalah giliran saya yang menyanyi, Selasa giliran adik saya, Rabu giliran saya, Kamis adik saya, begitu seterusnya berselang-seling. Hanya hari Minggu kami akan bernyanyi secara bersama-sama.
Dalam menyukai sebuah lagu, saya kadang menyukai liriknya. Persoalan enak atau tidak lagunya itu nomor dua. Kadang, saya hanya menyukai lagunya, tidak peduli apakah liriknya bagus atau tidak. Kadang juga awalnya saya tidak menyukai baik lirik dan lagunya, tapi karena lagu tersebut mempunyai kenangan dan makna dalam kejadian tertentu, saya jadi menyukainya.
Bagi saya, lagu adalah penanda memori dan lorong waktu.
Nah, berikut ini adalah lagu-lagu yang saya sebut sebagai soundtrack hidup saya. :D
1. El Pueblo Unido
Ini adalah lagu perjuangan rakyat Amerika Latin. Kalau dalam bahasa Inggris artinya The People United isinya tentang persatuan seperjuangan rakyat di dunia. Buat saya, lagu ini menjadi semacam dopping. Ya, semacam penyemangatlah. Ketika masih mahasiswa, jaman masih suka di jalanan, ini lagu adalah lagu yang wajib didengar ketika pagi hari. Tandanya, bahwa hidup bukan hanya untuk pergi ke kampus dan nongkrong di kantin doang. Tapi juga untuk belajar dan berjuang. Nah, ketika sudah lulus dan bekerja, selain memberi semangat, lagu ini juga mampu mensugesti saya memiliki jiwa dan semangat yang muda.
Lagu ini dari album Absolution Muse yang dirilis tahun 2002. Tapi, sumpah deh, saya mendengar untuk pertama kalinya tahun 2006, waktu pindah dari Bandung ke Yogyakarta. Waktu itu, seorang teman yang penggemar berat Muse menyetelnya di Winamp. Pertama kali mendengarnya, langsung ‘nembak’ di hati. Ketika hati lagi senang tiba-tiba langsung jadi melow. Saya merasa bahwa ada seseorang yang pernah singgah di hati saya, namun saya tidak bisa memilikinya. Kasiann banget sih gw.
‘You could be my uninteded/ Choise to live my life extended/You could be the one I’ll always love.’ Huaaaa... hiks..hiks...
Lagu lawas ini, lagunya ayah saya. Forever, everlasting love song. Saya menyukainya sejak saya kelas 1 SD. Ibarat sebuah rumah, dengan mendengarnya, saya ibarat pulang. Rasa nyaman dan damai.
Dulu ada yang bilang sama saya. Kalau patah hati kamu dilarang mendengar Radiohead dan The Doors. Dijamin kamu akan ngiprit sampai OD, lalu mati terkapar. Hahaha... saya menyukai Radiohead sejak SMA, sejak lagu Creep hits. Tapi lagu ini yang paling saya suka. Coba simak deh liriknya. Jenius. Multitafsir. Liriknya bisa soal patah hati karena cinta, atau patah hati karena kecewa dengan pemerintah yang tidak becus mengurus negara dan rakyatnya. Tentang seorang pekerja (buruh) yang desperate dengan nasibnya karena berupah rendah, sehingga tidak bisa memenuhi kebutuhan hidupnya.
so it is, he has shorter story no love, no glory no heroes in her sky
Hmmm... bisa nebak. Melow lagi deh. Hahaha... iyalah. Lagu ini soundtrack-nya film Closer. Yang dimainkan sama Julia Robert dan si cantik Natalie Portman. Film-nya jangan ditanya, oke banget. Naskahnya bagus. Karekter tokohnya juga kuat. Dan aku paling suka adegan openingnya. ‘Hallo stranger’, ketika adegan di rumah sakit, sama ketika adegan chatting.
Selain sedih, lagu ini juga enaaakk banget didengar kalau lagi jatuh cinta. Bisa senyum-senyum sendiri kamu, layaknya orang bodoh akibat cinta. Apalagi kalau lagi patah hati. Beugh, pasti ngunci diri di kamar, tengkurap di kasur, dengan muka tertutup bantal. Sesengrukan sampai kering air mata.
Lagu ini, memiliki makna terdalam bagi hidup saya. Suatu ketika ada seseorang yang ketika itu dekat dengan saya. Malam-malam, dia mengirim lagu ini untuk saya. Ketika saya bilang padanya bahwa saya akan menjadi orang paling kesepian di dunia jika hidup tanpanya. Besok siangnya saya mendapat kabar kalau dia masuk rumah sakit. Koma hampir seminggu. Dan ini adalah lagu terakhir yang dia berikan untuk saya semasa hidupnya.
Menurut saya ini adalah lagu patah hati. Baik itu patah hati karena putus dari pacar atau sedih sekaligus kecewa yang mendalam kepada kawan dekat. Kawan yang sebelumnya akrab, susah dan senang bersama-sama, kemudian harus berpisah. Saya pernah merasakan keduanya. Patah hati karena putus cinta dan 'berpisah' dengan kawan. Keduanya memiliki rasa sakit yang sama.
Ini juga bisa menjadi lagu marah-marah. Setiap nyalain Winamp, harus ada lagu ini. Pasti ikut nyanyi sambil teriak-teriak dan marah-marah. Padahal nggak tau marahnya sama siapa. Tapi enak lho, plong rasanya. Seperti habis melampiaskan kekesalan. Cobain deh. Selamat mencaci maki! https://www.youtube.com/watch?v=TR3Vdo5etCQ
9. People Are Stranger – The Doors
The Doors adalah band paling favorit saya. Semua lagunya saya suka. Soal lirik jangan ditanya. Ya pasti bagus-baguslah. Tapi dari semua lagu The Doors, People Are Stranger yang paling saya suka. Setiap dengar lagu ini, saya merasa ada di suatu perjalanan. Baik itu beneran sedang dalam perjalanan atau cuma diam aja di kamar. Baik itu perjalanan jauh atau cuma naik Damri aja dari Bandung-Jatinangor kayak jaman kuliah. Tapi, lagu ini bisa membuat saya menjadi perempuan kuat dan mandiri. Bahwa, hidup sendirian tanpa harus punya pasangan, semuanya akan baik-baik saja. Toh, yang paling penting dari makna kehidupan adalah, kita sebagai manusia harus bisa berguna untuk bangsa dan negara, juga kehidupan sosial bermasyarakat. Iya, gak?
10. Across The Universe - The Beatles
Saya boleh gak bilang: "Kalau dengar lagu ini kamu tak perlu melakukan sembahyang lagi"? Karena lagu ini bagi saya sudah religius. Lagu ini menjadi semacam obat untuk menstabilkan emosi. Jadi, kalau aku marah-marah tingkat dewa, dengar lagu ini saja, maka emosi saya akan menurun. Selain The Beatles, versi Jim Struggle, Rufus Wainright, Fiona Apple dan Scorpions juga oke
Dari deretan lagu-lagu di atas, People Are Stranger dan Across The Universe saya setting menjadi nada dering ponsel saya.
Sekarang, giliran kamu me-list lagu mana saja yang menjadi soundtrack hidup kamu. :)
Aduh kasian deh lo gak pernah aku urusin lagi. Kangen tau...
Mulai detik ini, aku janji deh, aku akan menjadi sahabatmu. I'm promise. Malu dong, sama gairah menulis seperi 10 tahun yang lalu.
Hmmm,
Baiklah. kita akan memulai dengan sebuah catatan tentang Netbook. Ih, kenapa sih kok netbook ya? Tenang, beib, aku emang bukan orang IT, jadi aku ngga akan cerita soal sejarah netbook, sparepart, dll.
Tidak semenarik itu. Ini hanya cerita tentang netbook baruku. Ehem... Gubrak deh... Hahaha... iyalah punya netbook baru ternyata berpengaruh besar terhadap hidup aku. Selain melanjutkan pekerjaanku yang dulu, sebagai editor dan desain grafis, netbook ini juga berjasa besar dalam memberi semangat untuk menulis kembali. Dahsyat, kan?
Netbook ini aku beli tanggal 3 Januari 2013. ASUS Eee PC. Yah, lumayan banget buat ngetik-ngetik doang mah. Menggantikan laptop aku yang ACER Aspire 2920.
Penting ngga sih pemberitahuan ini?
Menurutku sih penting.#secara bingung pula mau ngetik apa.
So, jangan bosan baca tulisanku ya. semoga menghibur, bermanfaat, dan menjadi sahabat setia.
Lebaran Idul Adha ini, saya gak terlalu banyak dapat daging. Selain gak begitu suka daging, makan terlalu banyak daging-dagingan juga bikin tubuh kita gak seger dan tidak sehat. Maka saya pesen sama semua, "ga usah kirim daging ya, kirim tulang aja heheh..." Datanglah adik ipar dari Klaten bawa tulang sapi. Trus dibikin tengkleng deh. Saya udah nyobain sih, tengkleng Jogja ama tengkleng Solo. Kalo tengkleng Jogja, kuah santannya lebih kental dan rasanya manis. Tapi tengkleng Solo kuahnya tidak kental dan cenderung asin, terus ada taburan cabe rawit utuhnya. Kalo saya sih, karena orang Sunda, tentu aja di lidah lebih cocok tengkleng Solo. Oya, satu lagi, klo kata temen dari Magelang, di Magelang juga ada tengkleng, tapi isinya jeroan bukan tulang. Hmmm... saya kan ga suka sama jeroan...
Biasanya tengkleng pakai tulang kambing, tapi karena adanya sapi saya pake aja. Nah, ini dia resep tengkleng ala preman yang aku bikin kemaren. Rasanya dijamin maknyus!
Bahan
Tulang sapi : 1 kg
Daging : 1 kg
Air : 3 liter (ga pake diukur-ukur sih, cuma pas panci ukuran sedang aja)
Kara santan ukuran paling kecil : 1 bungkus (sebernarnya klo ga pake santan juga odah enak)
Minyak goreng untuk menumis
Cabe rawit merah 20 - 30 buah (tergantung selera)
Bumbu yang Dihaluskan 1
Bawang Merah : 8 siung
Bawang Putih : 8 siung
Kemiri : 5 butir
Kunyit : 1 ruas jari
Jahe : 2 ruas jari
Kencur : 1 ruas jari
Lengkuas : 2 ruas jari
sedikir jinten
sedikir adas
Bumbu
Daun salam : 2 lembar
Daun Jeruk : 3 lembar
Sereh : 2 batang, ambil akarnya
Kapulaga : 5 buah
Cengkeh : 3 buah
Kayu Manis : 3 cm
Garam secukupnya
Gula pasir secukupnya sktr 1 sdt (untuk penambah gurih aja sebagai pengganti MSG)
Cara membuat Rebus air hingga mendidih. Masukan tulang dan daging. Kecilkan api. Tutup panci dan biarkan sampai daging empuk (1/2 - 1 jam). Sambil nunggu daging empuk, tumis Bumbu yang Dihaluskan 1, masukkan daun salam, hingga harum. Angkat.
Kira-kira daging hampir empuk, masukan sedikir garam, sereh, dan daun jeruk ke dalam rebusan tulang. tutup lagi, tunggu 15 menit. Setelah 15 menit masukan bumbu yang sudah ditumis tadi ke dalam panci, kemudian rempah-rempah lainnya (cengkeh, kapulaga, kayu manis) tutup, dan biarkan hingga bumbu menyerap sekitar 15 menit atau sampai daging empuk. Setelah daging benar-benar empuk masukan cabe rawit utuh (jangan lupa dicuci dulu ya, heheh...), kara santan, beri garam dan gula pasir secukupnya dan aduk sampai rawit agak layu. terakhir masukan ketumbar dan merica yang sudah disangrai dan dihaluskan. Aduk sebentar. Matikan api. Dan angkat deh.
Udah lama juga saya nggak ngurus blog ini (terakhir update tahun 2005) hihihi...
Alasannya klasik: MALES. Soalnya waktu bikin blog ini masih bolak-balik warnet. Masih jamannya ngekost di kota koboy Jatinangor, ama kuliah. Duit juga masih pas-pasan...
Sekarang, saya kerja dan stay di Jogjakarta. Meninggalkan Jatinangor, Bandung, Tasik.. hwaaa... ninggalin tanah kelahiran dan makanan-makanan kesukaan :((
But, I'm happy now. Meskipun wis dadi wong Jowo hidup merantau jauh dari orang tua, tapi gak sendirian. Banyak temen yang menyenangkan, juga suami yang sadar gender hehehe... (susah lho!) trus adik bungsu saya juga ta' boyong sekolah di Jogja.
Umurku duabelas setengah tahun pada musim semi 1940, saat pertama kali aku melihatnya. Kuingat benar sore itu ketika Mussolini menyatakan perang, aku mendapat sepeda pertamaku.
Kecuali ayahku yang tak suka pada II Duce, semua warga kota gembira Itali akan berperang. Tak sadar jiwanya dalam bahaya. Saatnya telah tiba, dan tidak akan terbatalkan lagi.
“Ya, saat itu aku melihatnya pertama kali. Dan pertama pula aku ereksi. Kata temanku, Malena memiliki bokong terindah di Castecuso, anak profesor Bonsignore, guru Bahasa Latin di Sekolah Tuna Rungu.” ** Renato dipukul ayahnya. Sebab ketahuan mencuri celana panjang ayahnya yang sudah dirombak seukuran dirinya. Dia sudah malas memakai celana pendek. Meski ia punya sepeda tetap saja orang-orang selalu mengejeknya. Bahkan di tempat cukur pun, Renato duduk di kursi anak-anak karena belum memakai celana panjang.
“Malam, aku menyusup ke rumah Malena. Aku mengintipnya lewat celah-celah jendela.
Barusan seorang teman SMA telepon.
Dia bilang kangen. Maksudku kangen ngumpul sama anak-anak waktu kelas 1&2.
Ya, aku juga kangen. Tapi tidak sedahsyat aku kangen rumah.
Katanya pengen ada buka bareng. Ah, aku tidak pernah ketemuan lagi sejak lulus SMA.
Mungkin akan lucu kalau ketemu.
Tapi aku tidak begitu berminat untuk ketemuan.
Kayak gimana ya mereka sekarang? Yang cowo ? yang cewe? Mungkin mereka jadi anak gaul. Kayak cewe2 kosmo? Dan kalau ketemu akan komentar; “kok sekarang jadi kucel sih?”
Aku pikir-pikir mungkin ya. Kalau berkaca soal penampilan, dari jaman dulu sampai sekarang kayaknya dandanan gw gini-gini aja deh. Tak ada hal yang signifikan berubah seperti ‘cewe cantik’ versi media massa. Dana aku memang ga minat sih dandan kayak gitu. Males banget.
Mungkin kadang memang perlu dandan. Tapi buat apa ya? Buat menarik perhatian cowo-cowo mesum. Hhhrrggghh… ngga deh, sori ya!
05 October 2005
aku membaca siang, kali ini.
sangat panas. sepanas obrolan hot sama anak-anak.
mmm... menyenangkan. sudah lama aku merindukannya.
rencananya kita akan kumpul lagi.
aku menunggu itu. mungkin akan terasa lama. ah, aku sangat benci menunggu.