Showing posts with label Cerita Pendek. Show all posts
Showing posts with label Cerita Pendek. Show all posts

01 October 2015

Beberapa Penggal Cerita



Penerbit: Insist Press Yogyakarta, 2005 | Desain sampul: Andy Seno Aji | Pengantar: Budi Darma


Ini hanya beberapa penggal ceritaku. Sebenarnya sudah lama aku ingin mengungkapkan tentang diriku yang sesungguhnya, Simaklah baik-baik. 

Aku hanya pelacur.
Genap empat tahun sudah, seratus tiga belas lelaki yang berbeda dan seorang lesbian pernah menikmati selangkanganku. Selangkangan yang paling aku banggakan.
Ya! Aku memutuskan menjadi pelacur ketika aku kuliah semester satu. Sejak tidak pernah pulang selama dua ratus malam. Di malam terakhir, Ibu berdandan seperti biasanya. Memakai gaun merah, sepatu Versace berhak 10 cm. Namun malam itu, ibu tidak memakai perhiasan sama sekali.
Seorang lelaki menjemputnya pada pukul 19.45. Perawakannya sangat kecil, bahkan lebih kecil dari Ibu. kulitnya kuning. Lelaki itu bahkan terlihat jauh lebih muda dibanding Ibu. Gaya berpakaiannya tidak seperti orang-orang yang Ibu ceritakan. Elegan dan berkelas. Dia hanya memakai raincoat dipadu dengan celana jeans dan sepatu gunung yang sudah lusuh.

03 February 2014

Lelaki yang Muncul Ketika Senja

Langit semburat jingga. Angsa-angsa riang bermain kejaran di danau. Tiga ekor burung menari ke sana ke mari. Dedaunan kering meliuk-liuk terbawa angin yang datang dan pergi memberi kesejukan bagi hati yang sedih dan kesepian. Sepasang kekasih meminggirkan perahunya lantas turun lalu pergi berdekapan dan berciuman.

Tidak jauh dari tempat itu ada seorang gadis duduk di sebuah kursi panjang di bawah pohon rindang sambil menatap pendar senja di air danau, ia baru menikmati senja di kota itu. Kota kelahirannya yang sudah ia tinggalkan empat tahun lalu semenjak harus melanjutkan sekolahnya ke sebuah perguruan tinggi di kota lain yang amat jauh letaknya. Sejak kecil ia memang sering pergi ke tempat itu untuk saling bercerita dengan danau. Bermain dan menatap senja persis seperti yang sedang ia lakukan sekarang. Ia memang menyukai senja. Tiada teman yang lebih setia dalam hidupnya selain danau.

27 June 2005

Sabtu Tak Pernah Datang


Sekeloa, 15.08 WIB


Siapa yang datang beratus tahun lalu
Yang membawa senjata dan peluru
Yang memaksa membangun sepur dengan palu
Yang menciptakan gedung-gedung dengan batu
Kau!

...

Sebuah puisi yang tak kau selesaikan. Tak sengaja aku membacanya kembali d iantara file-file yang kau simpan di komputerku. Kau yang hampir terlupakan. Dan mungkin akan terlupakan jika saja aku langsung mendelete file-file yang kuanggap sampah itu.

Kau akan menunggu lama.

Kalimat itulah yang kau tulis di notes yang menempel di pintu kamar kostku. Kalimat yang baru saja kumengerti. Bahwa kau benar-benar pergi. Lama. Dan entah kapan kembali. Kalimat itu pula yang memaksaku untuk selalu menunggumu. Bahkan mencarimu.

*

Pertengahan September yang panas adalah pertemuan pertama denganmu. Ketika seorang tukang bakso tak sengaja memecahkan dua lusin mangkoknya sebab dikejar-kejar aparat ketertiban umum. Ketika hujan tak kunjung turun dan harga bawang merah naik menjadi Rp. 8.000,-/kg. Ketika Ali sahabatmu menarik tangan seorang gadis untuk menemaninya bernyanyi dangdut.

Aku melihatmu pada acara dies natalis kampus di lapangan parkir siang itu. Pada tahun pertama aku menjadi mahasiswa. Kau memakai kaos berwarna tanah, celana jins, dan sepatu kets yang sudah belel. Tangan kananmu memegang megaphone dan berpuisi. Kau seperti Federico Garcia Lorca yang membaca puisi untuk kekasihnya, sehari sebelum dia dieksekusi oleh rezim fasis Spanyol masa Fransisco Franco.