Akhirnya bisa melewati November. Bulan yang banyak menorehkan luka
duka. Bulan kelahiran sekaligus perpisahan. Bulan di mana hujan
bercerita tentang awal dan akhir sebuah perjalanan.
Ini bukan
halaman terakhir. Tapi, lebih baik kututup saja catatan-catatan itu.
Kulipat, kumasukkan ke dalam peti. Mungkin di November mendatang ia akan
dibuka. Dibaca kembali. Untuk mengingatkan bahwa duka lama pernah ada, dan siap menerima kisah lara yang baru.
Saya dan Ayah sedang beristirahat ketika akan rekreasi ke Candi Borobudur
Ini adalah hari kematian ayah. Tepat ketika saya mengetik di paragraf
pertama ini. 7 November 2007, tujuh tahun lalu, di musim penghujan,
ketika Ashar tiba. Malaikat menjemputnya.
Ketika itu, saya
sedang berada di Jogja. Mendapat telepon, dari teman kecil saya Rara,
yang saat ini juga sudah almarhum, ketika saya sedang memesan mi di
warung indomie. Rara memberitahu kalau ayah sakit. Tapi, saya
menebaknya, ayah meninggal. Benar saja, beberapa menit setelahnya, adik
perempuan saya mengirim pesan pendek, “Put, pulang. Ayah meninggal.”
Udara Jogjakarta sejuk. Dari ujung kaki hingga leher saya masih tertutup selimut. Masih dalam selimut, saya mencari warna langit melalui jendela ruang televisi yang menembus ke halaman belakang, yang tirainya jarang ditutup. Ungu tua. Bisa diperkirakan saat itu sekitar jam 5 pagi. Saya memiringkan badan ke kanan, menghadap anak laki-laki saya yang masih tertidur pulas. Tanpa selimut. Dia tak pernah mau pakai selimut. Meski udara begitu dingin. Saya menyingkap rambut yang menutup keningnya.
"Ini adalah hari terakhir kita bermalas-malas di pagi hari, Nak. Besok kamu mau tak mau akan ikut Bunda bangun subuh-subuh, mandi, sarapan. Bunda antar kamu ke day care, kemudian Bunda kerja. Tak ada alasan untuk bangun tidur, tidur lagi. Tak ada alasan untuk malas mandi. Mulai besok kita akan menjadi bagian orang-orang yang sibuk di pagi hari. Patuh terhadap jadwal yang tetap. Senin sampai Jumat."
Sudah beberapa bulan ini saya tidur di ruang tengah. Mengerjakan deadline-deadline layout buku, desain sampul, dan naskah-naskah ringan. Saya mencintai pekerjaan lama saya. Meski tak pasti dan tak tentu datangnya.
Menjelang tahun baru, saya pergi ke Jogja Library Center di Jl. Malioboro untuk mencari beberapa arsip. Entah saya yang bodoh atau gimana ternyata tempatnya tutup. Padahal Tahun Baru masih 4 hari lagi. Berpikir. Oh, ya itu hari Sabtu. Ternyata saya yang bodoh. Akhir-akhir ini stadium penyakit lupa saya mengalami peningkatan yang drastis.
Tak ingin sia-sia setelah berpanas-panasan sejauh 15 KM dengan mengendarai motor, akhirnya saya memutuskan menyebarang jalan, memesan es teh di angkringan. Duduk-duduk di kursi semen, di bawah pohon sambil sesekali memotret toko-toko tua di sekitar situ. Es teh datang. Saya menyeruputnya. Nikmat sekali. Kebetulan, ketika itu saya juga janjian dengan beberapa teman di tempat yang sama menjelang Magrib. Melihat jam di telepon genggam masih jam 13.48. Oke. Saya masih punya waktu 3 jam.
Saya menyalakan laptop. Membuka email dan akun media sosial. Mengetik beberapa timeline. Sign out. Dan membuka MS Word, melanjutkan tulisan semalam.
"Wartawan mana, Mbak?" Seseorang tiba-tiba menghentikan ketikan saya.
Setiap orang pasti mempunyai lagu favorit. Baik secara sadar atau tidak, lagu-lagu tersebut selalu ada dalam playlist komputer, laptop, MP3 player, telepon cerdas, tablet, atau gadget apapun yang dimiliki. Saya pun demikian. Dari sekian ratus album musik yang saya miliki, namun lagu-lagu tersebut entah kenapa selalu saya klik, dan hukumnya seperti menjadi wajib dengar.
Bagi saya musik bukan saja teman ketika belajar, bekerja, bersantai, ataupun ketika dalam perjalanan, dan bukan hanya bagian dari seni terindah yang ada di semesta, namun juga sebagai tanda kenangan. Misal, ketika saya mendengar lagu Garuda Pancasila, maka yang ada dalam ingatan dan perasaan saya adalah sebuah fragmen televisi pertama di Indonesia yaitu TVRI, yang saya tonton setiap jam 19.30, ketika saya SD. Dan saya bernyanyi sekeras-kerasnya bersama adik laki-laki saya sambil loncat-loncat di sofa ruang keluarga. Kadangkala kami, saya dan adik, bertengkar gara-gara rebutan menyanyikan Garuda Pancasila. Hingga kami bersepakat setiap hari Senin adalah giliran saya yang menyanyi, Selasa giliran adik saya, Rabu giliran saya, Kamis adik saya, begitu seterusnya berselang-seling. Hanya hari Minggu kami akan bernyanyi secara bersama-sama.
Dalam menyukai sebuah lagu, saya kadang menyukai liriknya. Persoalan enak atau tidak lagunya itu nomor dua. Kadang, saya hanya menyukai lagunya, tidak peduli apakah liriknya bagus atau tidak. Kadang juga awalnya saya tidak menyukai baik lirik dan lagunya, tapi karena lagu tersebut mempunyai kenangan dan makna dalam kejadian tertentu, saya jadi menyukainya.
Bagi saya, lagu adalah penanda memori dan lorong waktu.
Nah, berikut ini adalah lagu-lagu yang saya sebut sebagai soundtrack hidup saya. :D
1. El Pueblo Unido
Ini adalah lagu perjuangan rakyat Amerika Latin. Kalau dalam bahasa Inggris artinya The People United isinya tentang persatuan seperjuangan rakyat di dunia. Buat saya, lagu ini menjadi semacam dopping. Ya, semacam penyemangatlah. Ketika masih mahasiswa, jaman masih suka di jalanan, ini lagu adalah lagu yang wajib didengar ketika pagi hari. Tandanya, bahwa hidup bukan hanya untuk pergi ke kampus dan nongkrong di kantin doang. Tapi juga untuk belajar dan berjuang. Nah, ketika sudah lulus dan bekerja, selain memberi semangat, lagu ini juga mampu mensugesti saya memiliki jiwa dan semangat yang muda.
Lagu ini dari album Absolution Muse yang dirilis tahun 2002. Tapi, sumpah deh, saya mendengar untuk pertama kalinya tahun 2006, waktu pindah dari Bandung ke Yogyakarta. Waktu itu, seorang teman yang penggemar berat Muse menyetelnya di Winamp. Pertama kali mendengarnya, langsung ‘nembak’ di hati. Ketika hati lagi senang tiba-tiba langsung jadi melow. Saya merasa bahwa ada seseorang yang pernah singgah di hati saya, namun saya tidak bisa memilikinya. Kasiann banget sih gw.
‘You could be my uninteded/ Choise to live my life extended/You could be the one I’ll always love.’ Huaaaa... hiks..hiks...
Lagu lawas ini, lagunya ayah saya. Forever, everlasting love song. Saya menyukainya sejak saya kelas 1 SD. Ibarat sebuah rumah, dengan mendengarnya, saya ibarat pulang. Rasa nyaman dan damai.
Dulu ada yang bilang sama saya. Kalau patah hati kamu dilarang mendengar Radiohead dan The Doors. Dijamin kamu akan ngiprit sampai OD, lalu mati terkapar. Hahaha... saya menyukai Radiohead sejak SMA, sejak lagu Creep hits. Tapi lagu ini yang paling saya suka. Coba simak deh liriknya. Jenius. Multitafsir. Liriknya bisa soal patah hati karena cinta, atau patah hati karena kecewa dengan pemerintah yang tidak becus mengurus negara dan rakyatnya. Tentang seorang pekerja (buruh) yang desperate dengan nasibnya karena berupah rendah, sehingga tidak bisa memenuhi kebutuhan hidupnya.
so it is, he has shorter story no love, no glory no heroes in her sky
Hmmm... bisa nebak. Melow lagi deh. Hahaha... iyalah. Lagu ini soundtrack-nya film Closer. Yang dimainkan sama Julia Robert dan si cantik Natalie Portman. Film-nya jangan ditanya, oke banget. Naskahnya bagus. Karekter tokohnya juga kuat. Dan aku paling suka adegan openingnya. ‘Hallo stranger’, ketika adegan di rumah sakit, sama ketika adegan chatting.
Selain sedih, lagu ini juga enaaakk banget didengar kalau lagi jatuh cinta. Bisa senyum-senyum sendiri kamu, layaknya orang bodoh akibat cinta. Apalagi kalau lagi patah hati. Beugh, pasti ngunci diri di kamar, tengkurap di kasur, dengan muka tertutup bantal. Sesengrukan sampai kering air mata.
Lagu ini, memiliki makna terdalam bagi hidup saya. Suatu ketika ada seseorang yang ketika itu dekat dengan saya. Malam-malam, dia mengirim lagu ini untuk saya. Ketika saya bilang padanya bahwa saya akan menjadi orang paling kesepian di dunia jika hidup tanpanya. Besok siangnya saya mendapat kabar kalau dia masuk rumah sakit. Koma hampir seminggu. Dan ini adalah lagu terakhir yang dia berikan untuk saya semasa hidupnya.
Menurut saya ini adalah lagu patah hati. Baik itu patah hati karena putus dari pacar atau sedih sekaligus kecewa yang mendalam kepada kawan dekat. Kawan yang sebelumnya akrab, susah dan senang bersama-sama, kemudian harus berpisah. Saya pernah merasakan keduanya. Patah hati karena putus cinta dan 'berpisah' dengan kawan. Keduanya memiliki rasa sakit yang sama.
Ini juga bisa menjadi lagu marah-marah. Setiap nyalain Winamp, harus ada lagu ini. Pasti ikut nyanyi sambil teriak-teriak dan marah-marah. Padahal nggak tau marahnya sama siapa. Tapi enak lho, plong rasanya. Seperti habis melampiaskan kekesalan. Cobain deh. Selamat mencaci maki! https://www.youtube.com/watch?v=TR3Vdo5etCQ
9. People Are Stranger – The Doors
The Doors adalah band paling favorit saya. Semua lagunya saya suka. Soal lirik jangan ditanya. Ya pasti bagus-baguslah. Tapi dari semua lagu The Doors, People Are Stranger yang paling saya suka. Setiap dengar lagu ini, saya merasa ada di suatu perjalanan. Baik itu beneran sedang dalam perjalanan atau cuma diam aja di kamar. Baik itu perjalanan jauh atau cuma naik Damri aja dari Bandung-Jatinangor kayak jaman kuliah. Tapi, lagu ini bisa membuat saya menjadi perempuan kuat dan mandiri. Bahwa, hidup sendirian tanpa harus punya pasangan, semuanya akan baik-baik saja. Toh, yang paling penting dari makna kehidupan adalah, kita sebagai manusia harus bisa berguna untuk bangsa dan negara, juga kehidupan sosial bermasyarakat. Iya, gak?
10. Across The Universe - The Beatles
Saya boleh gak bilang: "Kalau dengar lagu ini kamu tak perlu melakukan sembahyang lagi"? Karena lagu ini bagi saya sudah religius. Lagu ini menjadi semacam obat untuk menstabilkan emosi. Jadi, kalau aku marah-marah tingkat dewa, dengar lagu ini saja, maka emosi saya akan menurun. Selain The Beatles, versi Jim Struggle, Rufus Wainright, Fiona Apple dan Scorpions juga oke
Dari deretan lagu-lagu di atas, People Are Stranger dan Across The Universe saya setting menjadi nada dering ponsel saya.
Sekarang, giliran kamu me-list lagu mana saja yang menjadi soundtrack hidup kamu. :)
Udah lama juga saya nggak ngurus blog ini (terakhir update tahun 2005) hihihi...
Alasannya klasik: MALES. Soalnya waktu bikin blog ini masih bolak-balik warnet. Masih jamannya ngekost di kota koboy Jatinangor, ama kuliah. Duit juga masih pas-pasan...
Sekarang, saya kerja dan stay di Jogjakarta. Meninggalkan Jatinangor, Bandung, Tasik.. hwaaa... ninggalin tanah kelahiran dan makanan-makanan kesukaan :((
But, I'm happy now. Meskipun wis dadi wong Jowo hidup merantau jauh dari orang tua, tapi gak sendirian. Banyak temen yang menyenangkan, juga suami yang sadar gender hehehe... (susah lho!) trus adik bungsu saya juga ta' boyong sekolah di Jogja.
Barusan seorang teman SMA telepon.
Dia bilang kangen. Maksudku kangen ngumpul sama anak-anak waktu kelas 1&2.
Ya, aku juga kangen. Tapi tidak sedahsyat aku kangen rumah.
Katanya pengen ada buka bareng. Ah, aku tidak pernah ketemuan lagi sejak lulus SMA.
Mungkin akan lucu kalau ketemu.
Tapi aku tidak begitu berminat untuk ketemuan.
Kayak gimana ya mereka sekarang? Yang cowo ? yang cewe? Mungkin mereka jadi anak gaul. Kayak cewe2 kosmo? Dan kalau ketemu akan komentar; “kok sekarang jadi kucel sih?”
Aku pikir-pikir mungkin ya. Kalau berkaca soal penampilan, dari jaman dulu sampai sekarang kayaknya dandanan gw gini-gini aja deh. Tak ada hal yang signifikan berubah seperti ‘cewe cantik’ versi media massa. Dana aku memang ga minat sih dandan kayak gitu. Males banget.
Mungkin kadang memang perlu dandan. Tapi buat apa ya? Buat menarik perhatian cowo-cowo mesum. Hhhrrggghh… ngga deh, sori ya!
05 October 2005
aku membaca siang, kali ini.
sangat panas. sepanas obrolan hot sama anak-anak.
mmm... menyenangkan. sudah lama aku merindukannya.
rencananya kita akan kumpul lagi.
aku menunggu itu. mungkin akan terasa lama. ah, aku sangat benci menunggu.
males banget
musim dingin. males mandi. males kerja. males nyuci.
tapi, pacaran ga males.
ngegames juga.
17 July 2005
againts imperialism
PROTEST:WASHINGTON,16APR00 - A protester takes part in a demonstration close to the White House in Washington, April 16. Police stepped up security Sunday, pushing back by several blocks a security perimeter around the buildings were the International Monetary Fund meetings of finance ministers and central bankers from around the world were to take place. More than 5,000 people were in the streets of Washington on Sunday morning, blocking downtown streets as they tried to stop the delegates from entering their meetings. jp/Photo by Jessica Persson REUTERS
27 June 2005
udah 2 minggu aku kerja.
sudah 2 minggu aku mencoba jadi buruh pabrik di ... . damn!! ternyata memang menyedihkan.
hmmm.. gini ya rasanya jadi buruh...
mungkin bentar lagi aku keluar. aku ga tahan. mungkin cukup sudah aku melakukan program 3 sama untuk menyelesaikan novelku. sama makan, sama tinggal, dan yang sedang kulakukan sekarang sama kerja..
saatnya untuk menulis lagi. mudah-mudahan dapet rohnya.
saatnya cari kerja yang asyik lagi.
aku kangen nyilnyil, kucingku yang manja.
akhirnya gw bisa kembali ke kota tercinta. kota yang bisa menghilangkan stres-stres gw yang menjengkelkan! susah banget ya cari kerja kantoran. kyaknya gw emang dah ditakdirkan buan freelance.pengen ke jogja, ke tasik lagi, ke jombang...tapi, tetep aja bandung bikin gw stres juga...