Dua minggu ini, aku hunting playgroup untuk anakku, Zapata. Sejak hamil, aku sudah mengincar Milas. FYI, Milas itu adalah rumah makan vegetarian yang ada di Yogyakarta. Selain murah menurut isi dompetku, aku tertarik Milas karena di sana sangat diperhatikan soal gizi dan makanan. Anak-anak tidak diperkenankan membawa makanan pabrikan dan berplastik sekali buang ke sekolah. Selain itu, disiplin untuk menghargai makanan juga sangat ketat. Anak-anak diharusnya menghabiskan makanan yang sudah diambilnya. Tapi, ternyata pas aku ke sana, sudah penuh. Hiks..hiks... dan indent sampai bulan Desember.
Lalu, satu persatu aku mendatangi playgroup lainnya -yang atas rekomendasi teman-temanku. Dan amazing! Selain harganya maharani alias mahal banget, juga aku merasa kurang pas dengan pola didik dan aturan yang diterapkan. Gila aja,
Setiap orang pasti mempunyai lagu favorit. Baik secara sadar atau tidak, lagu-lagu tersebut selalu ada dalam playlist komputer, laptop, MP3 player, telepon cerdas, tablet, atau gadget apapun yang dimiliki. Saya pun demikian. Dari sekian ratus album musik yang saya miliki, namun lagu-lagu tersebut entah kenapa selalu saya klik, dan hukumnya seperti menjadi wajib dengar.
Bagi saya musik bukan saja teman ketika belajar, bekerja, bersantai, ataupun ketika dalam perjalanan, dan bukan hanya bagian dari seni terindah yang ada di semesta, namun juga sebagai tanda kenangan. Misal, ketika saya mendengar lagu Garuda Pancasila, maka yang ada dalam ingatan dan perasaan saya adalah sebuah fragmen televisi pertama di Indonesia yaitu TVRI, yang saya tonton setiap jam 19.30, ketika saya SD. Dan saya bernyanyi sekeras-kerasnya bersama adik laki-laki saya sambil loncat-loncat di sofa ruang keluarga. Kadangkala kami, saya dan adik, bertengkar gara-gara rebutan menyanyikan Garuda Pancasila. Hingga kami bersepakat setiap hari Senin adalah giliran saya yang menyanyi, Selasa giliran adik saya, Rabu giliran saya, Kamis adik saya, begitu seterusnya berselang-seling. Hanya hari Minggu kami akan bernyanyi secara bersama-sama.
Dalam menyukai sebuah lagu, saya kadang menyukai liriknya. Persoalan enak atau tidak lagunya itu nomor dua. Kadang, saya hanya menyukai lagunya, tidak peduli apakah liriknya bagus atau tidak. Kadang juga awalnya saya tidak menyukai baik lirik dan lagunya, tapi karena lagu tersebut mempunyai kenangan dan makna dalam kejadian tertentu, saya jadi menyukainya.
Bagi saya, lagu adalah penanda memori dan lorong waktu.
Nah, berikut ini adalah lagu-lagu yang saya sebut sebagai soundtrack hidup saya. :D
1. El Pueblo Unido
Ini adalah lagu perjuangan rakyat Amerika Latin. Kalau dalam bahasa Inggris artinya The People United isinya tentang persatuan seperjuangan rakyat di dunia. Buat saya, lagu ini menjadi semacam dopping. Ya, semacam penyemangatlah. Ketika masih mahasiswa, jaman masih suka di jalanan, ini lagu adalah lagu yang wajib didengar ketika pagi hari. Tandanya, bahwa hidup bukan hanya untuk pergi ke kampus dan nongkrong di kantin doang. Tapi juga untuk belajar dan berjuang. Nah, ketika sudah lulus dan bekerja, selain memberi semangat, lagu ini juga mampu mensugesti saya memiliki jiwa dan semangat yang muda.
Lagu ini dari album Absolution Muse yang dirilis tahun 2002. Tapi, sumpah deh, saya mendengar untuk pertama kalinya tahun 2006, waktu pindah dari Bandung ke Yogyakarta. Waktu itu, seorang teman yang penggemar berat Muse menyetelnya di Winamp. Pertama kali mendengarnya, langsung ‘nembak’ di hati. Ketika hati lagi senang tiba-tiba langsung jadi melow. Saya merasa bahwa ada seseorang yang pernah singgah di hati saya, namun saya tidak bisa memilikinya. Kasiann banget sih gw.
‘You could be my uninteded/ Choise to live my life extended/You could be the one I’ll always love.’ Huaaaa... hiks..hiks...
Lagu lawas ini, lagunya ayah saya. Forever, everlasting love song. Saya menyukainya sejak saya kelas 1 SD. Ibarat sebuah rumah, dengan mendengarnya, saya ibarat pulang. Rasa nyaman dan damai.
Dulu ada yang bilang sama saya. Kalau patah hati kamu dilarang mendengar Radiohead dan The Doors. Dijamin kamu akan ngiprit sampai OD, lalu mati terkapar. Hahaha... saya menyukai Radiohead sejak SMA, sejak lagu Creep hits. Tapi lagu ini yang paling saya suka. Coba simak deh liriknya. Jenius. Multitafsir. Liriknya bisa soal patah hati karena cinta, atau patah hati karena kecewa dengan pemerintah yang tidak becus mengurus negara dan rakyatnya. Tentang seorang pekerja (buruh) yang desperate dengan nasibnya karena berupah rendah, sehingga tidak bisa memenuhi kebutuhan hidupnya.
so it is, he has shorter story no love, no glory no heroes in her sky
Hmmm... bisa nebak. Melow lagi deh. Hahaha... iyalah. Lagu ini soundtrack-nya film Closer. Yang dimainkan sama Julia Robert dan si cantik Natalie Portman. Film-nya jangan ditanya, oke banget. Naskahnya bagus. Karekter tokohnya juga kuat. Dan aku paling suka adegan openingnya. ‘Hallo stranger’, ketika adegan di rumah sakit, sama ketika adegan chatting.
Selain sedih, lagu ini juga enaaakk banget didengar kalau lagi jatuh cinta. Bisa senyum-senyum sendiri kamu, layaknya orang bodoh akibat cinta. Apalagi kalau lagi patah hati. Beugh, pasti ngunci diri di kamar, tengkurap di kasur, dengan muka tertutup bantal. Sesengrukan sampai kering air mata.
Lagu ini, memiliki makna terdalam bagi hidup saya. Suatu ketika ada seseorang yang ketika itu dekat dengan saya. Malam-malam, dia mengirim lagu ini untuk saya. Ketika saya bilang padanya bahwa saya akan menjadi orang paling kesepian di dunia jika hidup tanpanya. Besok siangnya saya mendapat kabar kalau dia masuk rumah sakit. Koma hampir seminggu. Dan ini adalah lagu terakhir yang dia berikan untuk saya semasa hidupnya.
Menurut saya ini adalah lagu patah hati. Baik itu patah hati karena putus dari pacar atau sedih sekaligus kecewa yang mendalam kepada kawan dekat. Kawan yang sebelumnya akrab, susah dan senang bersama-sama, kemudian harus berpisah. Saya pernah merasakan keduanya. Patah hati karena putus cinta dan 'berpisah' dengan kawan. Keduanya memiliki rasa sakit yang sama.
Ini juga bisa menjadi lagu marah-marah. Setiap nyalain Winamp, harus ada lagu ini. Pasti ikut nyanyi sambil teriak-teriak dan marah-marah. Padahal nggak tau marahnya sama siapa. Tapi enak lho, plong rasanya. Seperti habis melampiaskan kekesalan. Cobain deh. Selamat mencaci maki! https://www.youtube.com/watch?v=TR3Vdo5etCQ
9. People Are Stranger – The Doors
The Doors adalah band paling favorit saya. Semua lagunya saya suka. Soal lirik jangan ditanya. Ya pasti bagus-baguslah. Tapi dari semua lagu The Doors, People Are Stranger yang paling saya suka. Setiap dengar lagu ini, saya merasa ada di suatu perjalanan. Baik itu beneran sedang dalam perjalanan atau cuma diam aja di kamar. Baik itu perjalanan jauh atau cuma naik Damri aja dari Bandung-Jatinangor kayak jaman kuliah. Tapi, lagu ini bisa membuat saya menjadi perempuan kuat dan mandiri. Bahwa, hidup sendirian tanpa harus punya pasangan, semuanya akan baik-baik saja. Toh, yang paling penting dari makna kehidupan adalah, kita sebagai manusia harus bisa berguna untuk bangsa dan negara, juga kehidupan sosial bermasyarakat. Iya, gak?
10. Across The Universe - The Beatles
Saya boleh gak bilang: "Kalau dengar lagu ini kamu tak perlu melakukan sembahyang lagi"? Karena lagu ini bagi saya sudah religius. Lagu ini menjadi semacam obat untuk menstabilkan emosi. Jadi, kalau aku marah-marah tingkat dewa, dengar lagu ini saja, maka emosi saya akan menurun. Selain The Beatles, versi Jim Struggle, Rufus Wainright, Fiona Apple dan Scorpions juga oke
Dari deretan lagu-lagu di atas, People Are Stranger dan Across The Universe saya setting menjadi nada dering ponsel saya.
Sekarang, giliran kamu me-list lagu mana saja yang menjadi soundtrack hidup kamu. :)
Aduh kasian deh lo gak pernah aku urusin lagi. Kangen tau...
Mulai detik ini, aku janji deh, aku akan menjadi sahabatmu. I'm promise. Malu dong, sama gairah menulis seperi 10 tahun yang lalu.
Hmmm,
Baiklah. kita akan memulai dengan sebuah catatan tentang Netbook. Ih, kenapa sih kok netbook ya? Tenang, beib, aku emang bukan orang IT, jadi aku ngga akan cerita soal sejarah netbook, sparepart, dll.
Tidak semenarik itu. Ini hanya cerita tentang netbook baruku. Ehem... Gubrak deh... Hahaha... iyalah punya netbook baru ternyata berpengaruh besar terhadap hidup aku. Selain melanjutkan pekerjaanku yang dulu, sebagai editor dan desain grafis, netbook ini juga berjasa besar dalam memberi semangat untuk menulis kembali. Dahsyat, kan?
Netbook ini aku beli tanggal 3 Januari 2013. ASUS Eee PC. Yah, lumayan banget buat ngetik-ngetik doang mah. Menggantikan laptop aku yang ACER Aspire 2920.
Penting ngga sih pemberitahuan ini?
Menurutku sih penting.#secara bingung pula mau ngetik apa.
So, jangan bosan baca tulisanku ya. semoga menghibur, bermanfaat, dan menjadi sahabat setia.
Lebaran Idul Adha ini, saya gak terlalu banyak dapat daging. Selain gak begitu suka daging, makan terlalu banyak daging-dagingan juga bikin tubuh kita gak seger dan tidak sehat. Maka saya pesen sama semua, "ga usah kirim daging ya, kirim tulang aja heheh..." Datanglah adik ipar dari Klaten bawa tulang sapi. Trus dibikin tengkleng deh. Saya udah nyobain sih, tengkleng Jogja ama tengkleng Solo. Kalo tengkleng Jogja, kuah santannya lebih kental dan rasanya manis. Tapi tengkleng Solo kuahnya tidak kental dan cenderung asin, terus ada taburan cabe rawit utuhnya. Kalo saya sih, karena orang Sunda, tentu aja di lidah lebih cocok tengkleng Solo. Oya, satu lagi, klo kata temen dari Magelang, di Magelang juga ada tengkleng, tapi isinya jeroan bukan tulang. Hmmm... saya kan ga suka sama jeroan...
Biasanya tengkleng pakai tulang kambing, tapi karena adanya sapi saya pake aja. Nah, ini dia resep tengkleng ala preman yang aku bikin kemaren. Rasanya dijamin maknyus!
Bahan
Tulang sapi : 1 kg
Daging : 1 kg
Air : 3 liter (ga pake diukur-ukur sih, cuma pas panci ukuran sedang aja)
Kara santan ukuran paling kecil : 1 bungkus (sebernarnya klo ga pake santan juga odah enak)
Minyak goreng untuk menumis
Cabe rawit merah 20 - 30 buah (tergantung selera)
Bumbu yang Dihaluskan 1
Bawang Merah : 8 siung
Bawang Putih : 8 siung
Kemiri : 5 butir
Kunyit : 1 ruas jari
Jahe : 2 ruas jari
Kencur : 1 ruas jari
Lengkuas : 2 ruas jari
sedikir jinten
sedikir adas
Bumbu
Daun salam : 2 lembar
Daun Jeruk : 3 lembar
Sereh : 2 batang, ambil akarnya
Kapulaga : 5 buah
Cengkeh : 3 buah
Kayu Manis : 3 cm
Garam secukupnya
Gula pasir secukupnya sktr 1 sdt (untuk penambah gurih aja sebagai pengganti MSG)
Cara membuat Rebus air hingga mendidih. Masukan tulang dan daging. Kecilkan api. Tutup panci dan biarkan sampai daging empuk (1/2 - 1 jam). Sambil nunggu daging empuk, tumis Bumbu yang Dihaluskan 1, masukkan daun salam, hingga harum. Angkat.
Kira-kira daging hampir empuk, masukan sedikir garam, sereh, dan daun jeruk ke dalam rebusan tulang. tutup lagi, tunggu 15 menit. Setelah 15 menit masukan bumbu yang sudah ditumis tadi ke dalam panci, kemudian rempah-rempah lainnya (cengkeh, kapulaga, kayu manis) tutup, dan biarkan hingga bumbu menyerap sekitar 15 menit atau sampai daging empuk. Setelah daging benar-benar empuk masukan cabe rawit utuh (jangan lupa dicuci dulu ya, heheh...), kara santan, beri garam dan gula pasir secukupnya dan aduk sampai rawit agak layu. terakhir masukan ketumbar dan merica yang sudah disangrai dan dihaluskan. Aduk sebentar. Matikan api. Dan angkat deh.
Udah lama juga saya nggak ngurus blog ini (terakhir update tahun 2005) hihihi...
Alasannya klasik: MALES. Soalnya waktu bikin blog ini masih bolak-balik warnet. Masih jamannya ngekost di kota koboy Jatinangor, ama kuliah. Duit juga masih pas-pasan...
Sekarang, saya kerja dan stay di Jogjakarta. Meninggalkan Jatinangor, Bandung, Tasik.. hwaaa... ninggalin tanah kelahiran dan makanan-makanan kesukaan :((
But, I'm happy now. Meskipun wis dadi wong Jowo hidup merantau jauh dari orang tua, tapi gak sendirian. Banyak temen yang menyenangkan, juga suami yang sadar gender hehehe... (susah lho!) trus adik bungsu saya juga ta' boyong sekolah di Jogja.
Umurku duabelas setengah tahun pada musim semi 1940, saat pertama kali aku melihatnya. Kuingat benar sore itu ketika Mussolini menyatakan perang, aku mendapat sepeda pertamaku.
Kecuali ayahku yang tak suka pada II Duce, semua warga kota gembira Itali akan berperang. Tak sadar jiwanya dalam bahaya. Saatnya telah tiba, dan tidak akan terbatalkan lagi.
“Ya, saat itu aku melihatnya pertama kali. Dan pertama pula aku ereksi. Kata temanku, Malena memiliki bokong terindah di Castecuso, anak profesor Bonsignore, guru Bahasa Latin di Sekolah Tuna Rungu.” ** Renato dipukul ayahnya. Sebab ketahuan mencuri celana panjang ayahnya yang sudah dirombak seukuran dirinya. Dia sudah malas memakai celana pendek. Meski ia punya sepeda tetap saja orang-orang selalu mengejeknya. Bahkan di tempat cukur pun, Renato duduk di kursi anak-anak karena belum memakai celana panjang.
“Malam, aku menyusup ke rumah Malena. Aku mengintipnya lewat celah-celah jendela.
Barusan seorang teman SMA telepon.
Dia bilang kangen. Maksudku kangen ngumpul sama anak-anak waktu kelas 1&2.
Ya, aku juga kangen. Tapi tidak sedahsyat aku kangen rumah.
Katanya pengen ada buka bareng. Ah, aku tidak pernah ketemuan lagi sejak lulus SMA.
Mungkin akan lucu kalau ketemu.
Tapi aku tidak begitu berminat untuk ketemuan.
Kayak gimana ya mereka sekarang? Yang cowo ? yang cewe? Mungkin mereka jadi anak gaul. Kayak cewe2 kosmo? Dan kalau ketemu akan komentar; “kok sekarang jadi kucel sih?”
Aku pikir-pikir mungkin ya. Kalau berkaca soal penampilan, dari jaman dulu sampai sekarang kayaknya dandanan gw gini-gini aja deh. Tak ada hal yang signifikan berubah seperti ‘cewe cantik’ versi media massa. Dana aku memang ga minat sih dandan kayak gitu. Males banget.
Mungkin kadang memang perlu dandan. Tapi buat apa ya? Buat menarik perhatian cowo-cowo mesum. Hhhrrggghh… ngga deh, sori ya!