24 October 2005

DANDAN????

Barusan seorang teman SMA telepon. Dia bilang kangen. Maksudku kangen ngumpul sama anak-anak waktu kelas 1&2. Ya, aku juga kangen. Tapi tidak sedahsyat aku kangen rumah. Katanya pengen ada buka bareng. Ah, aku tidak pernah ketemuan lagi sejak lulus SMA. Mungkin akan lucu kalau ketemu. Tapi aku tidak begitu berminat untuk ketemuan. Kayak gimana ya mereka sekarang? Yang cowo ? yang cewe? Mungkin mereka jadi anak gaul. Kayak cewe2 kosmo? Dan kalau ketemu akan komentar; “kok sekarang jadi kucel sih?” Aku pikir-pikir mungkin ya. Kalau berkaca soal penampilan, dari jaman dulu sampai sekarang kayaknya dandanan gw gini-gini aja deh. Tak ada hal yang signifikan berubah seperti ‘cewe cantik’ versi media massa. Dana aku memang ga minat sih dandan kayak gitu. Males banget. Mungkin kadang memang perlu dandan. Tapi buat apa ya? Buat menarik perhatian cowo-cowo mesum. Hhhrrggghh… ngga deh, sori ya!

05 October 2005

aku membaca siang, kali ini. sangat panas. sepanas obrolan hot sama anak-anak. mmm... menyenangkan. sudah lama aku merindukannya. rencananya kita akan kumpul lagi. aku menunggu itu. mungkin akan terasa lama. ah, aku sangat benci menunggu.

10 August 2005

maless

males banget musim dingin. males mandi. males kerja. males nyuci. tapi, pacaran ga males. ngegames juga.

17 July 2005

againts imperialism
PROTEST:WASHINGTON,16APR00 - A protester takes part in a demonstration close to the White House in Washington, April 16. Police stepped up security Sunday, pushing back by several blocks a security perimeter around the buildings were the International Monetary Fund meetings of finance ministers and central bankers from around the world were to take place. More than 5,000 people were in the streets of Washington on Sunday morning, blocking downtown streets as they tried to stop the delegates from entering their meetings. jp/Photo by Jessica Persson REUTERS

27 June 2005

udah 2 minggu aku kerja. sudah 2 minggu aku mencoba jadi buruh pabrik di ... . damn!! ternyata memang menyedihkan. hmmm.. gini ya rasanya jadi buruh... mungkin bentar lagi aku keluar. aku ga tahan. mungkin cukup sudah aku melakukan program 3 sama untuk menyelesaikan novelku. sama makan, sama tinggal, dan yang sedang kulakukan sekarang sama kerja.. saatnya untuk menulis lagi. mudah-mudahan dapet rohnya. saatnya cari kerja yang asyik lagi. aku kangen nyilnyil, kucingku yang manja.

Sabtu Tak Pernah Datang


Sekeloa, 15.08 WIB


Siapa yang datang beratus tahun lalu
Yang membawa senjata dan peluru
Yang memaksa membangun sepur dengan palu
Yang menciptakan gedung-gedung dengan batu
Kau!

...

Sebuah puisi yang tak kau selesaikan. Tak sengaja aku membacanya kembali d iantara file-file yang kau simpan di komputerku. Kau yang hampir terlupakan. Dan mungkin akan terlupakan jika saja aku langsung mendelete file-file yang kuanggap sampah itu.

Kau akan menunggu lama.

Kalimat itulah yang kau tulis di notes yang menempel di pintu kamar kostku. Kalimat yang baru saja kumengerti. Bahwa kau benar-benar pergi. Lama. Dan entah kapan kembali. Kalimat itu pula yang memaksaku untuk selalu menunggumu. Bahkan mencarimu.

*

Pertengahan September yang panas adalah pertemuan pertama denganmu. Ketika seorang tukang bakso tak sengaja memecahkan dua lusin mangkoknya sebab dikejar-kejar aparat ketertiban umum. Ketika hujan tak kunjung turun dan harga bawang merah naik menjadi Rp. 8.000,-/kg. Ketika Ali sahabatmu menarik tangan seorang gadis untuk menemaninya bernyanyi dangdut.

Aku melihatmu pada acara dies natalis kampus di lapangan parkir siang itu. Pada tahun pertama aku menjadi mahasiswa. Kau memakai kaos berwarna tanah, celana jins, dan sepatu kets yang sudah belel. Tangan kananmu memegang megaphone dan berpuisi. Kau seperti Federico Garcia Lorca yang membaca puisi untuk kekasihnya, sehari sebelum dia dieksekusi oleh rezim fasis Spanyol masa Fransisco Franco.